Pembelajaran Bahasa Makassar sebagai Fondasi Peace Education: Upaya Mitigasi Konflik Sejak Dini di Lingkungan Sekolah

Oleh: Deni Indrawan ( Dosen Pendidikan Bahasa Makassar Fakultas Bahasa dan Sastra UNM)

WARTAKATA.ID, MAKASSAR — Dinamika sosial Kota Makassar yang kian kompleks. Pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai. Konflik sosial seringkali berakar pada miskomunikasi, stereotip, dan kurangnya pemahaman budaya. Karena itu, pembelajaran bahasa daerah, khususnya Bahasa Makassar dapat menjadi salah satu pendekatan penting untuk memperkuat ketahanan sosial sejak dini. Bahasa tidak hanya tentang bagaimana menata kata, tetapi juga nilai-nilai yang mengatur cara masyarakat memahami hubungan antarmanusia. Budaya Makassar memiliki prinsip moral yang sangat kuat, yaitu sipakatau (saling memanusiakan), sipakainga’ (saling mengingatkan), dan sipakalabbi’ (saling memuliakan).

Nilai-nilai ini melekat dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Jika nilai ini diajarkan melalui pembelajaran bahasa di sekolah, siswa tidak hanya mempelajari kosakata, tetapi juga cara bersikap. Menurut Geertz (1973), bahasa adalah wadah makna yang membawa identitas moral sebuah masyarakat. Ketika anak mempelajari bahasa Makassar, mereka juga menyerap pola interaksi sosial yang penuh hormat dan menolak kekerasan. Hal ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang damai.

Konflik kecil sering terjadi karena kesalahpahaman terhadap humor, intonasi, atau gaya berbicara. Sapir dan Whorf (1956) menjelaskan bahwa bahasa memengaruhi cara seseorang memahami realitas dan tindakan orang lain. Siswa yang memahami Bahasa Makassar akan lebih mudah memahami komunikasi masyarakat lokal, sehingga potensi salah tafsir yang dapat memicu konflik dapat berkurang. Selain itu, dalam konteks sekolah yang dihuni oleh siswa dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan luar daerah, pembelajaran Bahasa Makassar dapat menjadi jembatan integrasi sosial.

Dengan memahami bahasa lokal, siswa non-Makassar merasa lebih diterima dan dihargai, sehingga hubungan antar kelompok menjadi lebih harmonis. Pendidikan perdamaian (peace education) menekankan pentingnya membangun keterampilan komunikasi empatik dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Johnson & Johnson (2005) menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi secara empatik adalah pilar utama pencegahan konflik di lingkungan pendidikan. Pembelajaran Bahasa Makassar dapat dimanfaatkan untuk praktik komunikasi damai melalui beberapa langkah, seperti latihan dialog, metode roleplay, dan penguatan nilai sipakatau di dalam kelas.

Latihan dialog yang memanfaatkan ungkapan sopan dalam Bahasa Makassar merupakan pendekatan pedagogis yang efektif dalam membangun kompetensi pragmatik peserta didik, khususnya dalam konteks komunikasi yang beretika. Penggunaan bentuk-bentuk sapaan seperti ki’, ta’, maupun ungkapan kesantunan lain tidak hanya mengembangkan kemampuan linguistik siswa, tetapi juga menginternalisasikan norma-norma kesopanan yang menjadi bagian integral dari budaya Makassar.

Melalui pembiasaan penggunaan bahasa yang santun, siswa belajar memahami bahwa pilihan kata memiliki implikasi sosial yang signifikan, sehingga pola tutur yang halus dapat berfungsi sebagai mekanisme preventif terhadap potensi konflik interpersonal di lingkungan sekolah. Dengan demikian, latihan dialog berbasis bahasa lokal tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan kebahasaan, tetapi juga sebagai strategi mitigasi konflik melalui pembinaan etika komunikasi.

Selanjutnya, penerapan metode roleplay dalam penyelesaian konflik dengan memanfaatkan gaya tutur Makassar memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengonstruksi pemahaman praktis mengenai manajemen konflik yang berorientasi pada harmoni sosial. Budaya tutur Makassar secara tradisional menekankan pentingnya menjaga harga diri dan kehormatan pihak lain dalam situasi perselisihan, sehingga komunikasi yang digunakan cenderung menghindari konfrontasi langsung serta mengedepankan ungkapan yang bersifat menenangkan.

Melalui roleplay, peserta didik tidak hanya mempraktikkan strategi bahasa yang sesuai dengan norma lokal, tetapi juga mempelajari keterampilan regulasi emosi, negosiasi makna, serta penyusunan argumen yang konstruktif dalam situasi bermasalah. Dengan cara ini, roleplay berfungsi sebagai instrumen pedagogis yang mampu mengembangkan kecerdasan sosial sekaligus kompetensi komunikasi damai.

Nilai sipakatau sebagai prinsip utama dalam relasi sosial masyarakat Makassar memiliki posisi strategis dalam penguatan karakter peserta didik melalui pembelajaran bahasa. Sipakatau, yang bermakna memanusiakan sesama, menyediakan kerangka etis yang menuntun individu untuk memperlakukan orang lain dengan penghormatan, empati, dan kesadaran moral. Ketika nilai ini diintegrasikan secara konsisten dalam interaksi kelas, peserta didik belajar bahwa bahasa bukan sekadar sarana penyampaian pesan, tetapi juga medium pembentukan sikap dan perilaku sosial.

Penguatan nilai sipakatau mampu menciptakan iklim pembelajaran yang inklusif, kooperatif, dan minim konflik, karena peserta didik dibimbing untuk memandang setiap orang sebagai subjek yang memiliki martabat. Internalisasi nilai ini memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan ketahanan sosial di lingkungan pendidikan. Makassar adalah kota urban dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Integrasi sosial menjadi kritik penting untuk meminimalkan gesekan antarkelompok.

Banks (2019) menekankan bahwa pendidikan multikultural efektif ketika mengakui dan mengajarkan budaya lokal sebagai fondasi persatuan. Mengajarkan Bahasa Makassar di sekolah-sekolah formal tidak berarti mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, tetapi memperkaya kemampuan siswa untuk memahami keragaman sosial di lingkungan mereka. Ketika anak tumbuh memahami budaya tempat mereka hidup, mereka lebih siap menjadi warga yang toleran dan berwawasan damai.

Pembelajaran Bahasa Makassar tidak sekadar upaya pelestarian budaya, melainkan strategi mitigasi konflik sosial yang kreatif dan humanis. Melalui bahasa, anak-anak belajar memahami, menghormati, dan berempati terhadap sesama. Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, investasi pendidikan berbasis budaya lokal menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun masyarakat yang rukun dan resilien. Dengan demikian, bahasa menjadi medium internalisasi etika sosial yang memperkuat kemampuan siswa mengatasi perselisihan secara konstruktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *