WARTAKATA.ID, MAKASSAR – Pagi itu, Sabtu (30/8/2025), Jalan Balang Baru II, Kecamatan Tamalate, diselimuti keheningan.
Kursi-kursi plastik berjejer rapi di sebuah rumah sederhana.
Aroma kopi hitam bercampur bau kemenyan samar tercium, sementara isak tangis terdengar di setiap sudut ruangan.
Di ruang tengah, jenazah Muhammad Akbar Basri atau akrab disapa Ubay terbujur kaku.
Fotografer DPRD Makassar itu menjadi salah satu korban dalam insiden kebakaran Gedung DPRD Makassar usai demonstrasi ricuh sehari sebelumnya.
Sekitar pukul 06.45 Wita, rombongan Pemkot Makassar tiba.
Wali Kota Munafri Arifuddin masuk dengan wajah muram, didampingi Sekretaris Daerah Andi Zulkifly Nanda dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Muhammad Roem.
Kehadiran mereka disambut pelukan haru keluarga almarhum.
Munafri menunduk sejenak di depan jenazah, menghela napas panjang sebelum akhirnya menyampaikan belasungkawa.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Makassar, saya menyampaikan duka mendalam. Almarhum bukan hanya pegawai, tapi bagian dari keluarga besar kita,” ucapnya lirih.
Di sampingnya, Muhammad Roem tampak berusaha menenangkan keluarga. Sesekali ia menepuk pundak ayah almarhum yang berlinang air mata.
Baginya, Ubay bukan sekadar fotografer, melainkan sosok yang selalu hadir mengabadikan momen penting di DPRD dengan senyum ramah dan ketekunan.
“Beliau orang yang setia dalam tugasnya, selalu mendokumentasikan setiap agenda dengan penuh tanggung jawab,” kata Roem.
Kehilangannya adalah kehilangan kita semua,” tambah Roem, suaranya bergetar.
Tangisan semakin pecah saat doa bersama dipanjatkan.
Istri almarhum, yang duduk di sudut ruangan, tak kuasa menahan tangis, dipeluk erat oleh kerabat dan rekan-rekan Ubay.
Seorang kolega berbisik lirih.
“Ubay selalu tersenyum, tak pernah mengeluh, meski tugas datang silih berganti.”
Di rumah duka itu, bukan hanya keluarga yang berduka. Pemerintah kota pun merasakan kehilangan mendalam.
Wali Kota memastikan seluruh kebutuhan pemakaman hingga takziah ditanggung Pemkot.
Namun lebih dari itu, duka ini menjadi simbol luka kolektif Kota Makassar: sebuah pengingat bahwa konflik yang tak terkendali bisa merenggut nyawa seorang pekerja yang hanya bertugas di balik lensa kamera.
Hari itu, Balang Baru menjadi saksi.
Bahwa seorang fotografer sederhana, dengan kamera sebagai senjatanya, kini pergi untuk selamanya, meninggalkan jejak senyum dan kenangan di hati banyak orang.







