Opini Oleh: Dr. Agung Rinaldy Malik, M.Pd. (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM)
WARTAKATA.ID, MAKASSAR — Setiap tanggal 3 Desember, dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional yang ditetapkan oleh United Nations. Peringatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan ajakan untuk menata cara pandang kita terhadap keberagaman manusia. Selama ini kita sering mengaku menghargai perbedaan, namun sikap kita belum selalu diikuti oleh langkah nyata yang memastikan semua orang memperoleh akses yang adil.
Di dalam masyarakat, penyandang disabilitas masih sering diposisikan sebagai kelompok
yang perlu dikasihani. Padahal yang mereka butuhkan bukan belas kasihan, tetapi
pengakuan. Mereka berhak memperoleh ruang hidup yang sama terhormatnya dengan
kelompok lain. Inklusi bukan hadiah, tetapi hak dasar. Kita tidak sedang menolong mereka.
Kita hanya sedang memenuhi tanggung jawab sebagai sesama manusia.
Sebagai dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar, saya melihat
bahwa bahasa memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar alat menyampaikan
pikiran. Bahasa adalah ruang yang membentuk cara kita menilai orang lain. Ketika bahasa
digunakan dengan perspektif yang menghargai keragaman, maka lahirlah budaya
akademik yang menerima dan membuka pintu bagi semua mahasiswa, termasuk
mahasiswa penyandang disabilitas. Namun apabila bahasa digunakan dengan cara yang
merendahkan atau menyingkirkan, maka kampus yang kita banggakan berubah menjadi
tempat yang membatasi potensi.
Pengalaman di berbagai ruang kelas menunjukkan bahwa aksesibilitas masih perlu
diperkuat. Ada mahasiswa tunanetra yang kesulitan mendapatkan materi dalam format
yang dapat dibaca perangkat lunak pendukung. Ada mahasiswa Tuli yang masih
mengandalkan catatan teman karena layanan juru bahasa isyarat belum tersedia secara
konsisten. Situasi seperti ini bukan kelemahan mereka. Ini adalah cermin bahwa sistem
pendidikan belum sepenuhnya siap menerima keberagaman.
Hari Disabilitas Internasional mengingatkan kita bahwa inklusi bukan konsep abstrak.
Inklusi hadir dalam keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Inklusi tampak dalam
ketersediaan materi pembelajaran yang ramah akses, suasana kelas yang memberi ruang
setara bagi semua mahasiswa, serta sikap pengajar yang bersedia menyesuaikan metode
untuk memastikan setiap orang dapat belajar dengan nyaman. Pendidikan yang baik tidakmenunggu mahasiswa menyesuaikan diri, tetapi justru menyesuaikan diri agar semua
mahasiswa dapat berkembang.
Perjuangan menuju kampus inklusif tidak pernah selesai dalam satu hari peringatan.
Perjuangan ini lahir dari kesadaran bahwa keberagaman manusia adalah kekayaan
intelektual. Penyandang disabilitas bukan objek yang harus kita atur, tetapi subjek yang
berhak memimpin, mencipta, dan berkontribusi. Ketika kita memberi ruang yang setara,
kita bukan hanya menciptakan lingkungan akademik yang lebih adil. Kita sedang merawat
nilai kemanusiaan itu sendiri.
Hari ini kita memperingati. Besok kita bekerja. Dan setiap hari kita mengingat bahwa
pendidikan tanpa keberpihakan pada kelompok rentan hanyalah bangunan pengetahuan
yang kehilangan jiwanya.











