WARTAKATA.ID, MAROS – Peristiwa tenggelamnya anak semata wayang, ABS (6), siswa kelas 1 SD Sekolah Alam Darul Istiqamah, Maros, pada 1 September 2026 saat mengikuti kegiatan renang di lingkungan sekolah menyisakan luka mendalam dan sejumlah pertanyaan bagi keluarga korban.
Salah satu pertanyaan utama yang hingga kini, menurut keluarga, belum mendapatkan jawaban jelas adalah bagaimana ABS yang sebelumnya disebut berada di kolam anak kemudian dapat ditemukan di kolam dewasa.
Menurut keterangan orang tua korban, UM, kegiatan renang tersebut merupakan mata pelajaran wajib yang termasuk dalam kurikulum sekolah.
Kegiatan berlangsung sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WITA. Setelah kegiatan berenang selesai, ABS disebut sempat berada di kolam anak. Namun, pada titik inilah keluarga mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dari kolam anak, bagaimana ABS bisa berada di kolam dewasa?
Di lokasi terdapat kolam anak dan kolam dewasa. Menurut keterangan keluarga, kolam dewasa memiliki beberapa tingkat kedalaman, mulai sekitar 100 sentimeter hingga sekitar 140 sentimeter.
Keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan yang memadai mengenai proses perpindahan ABS dari kolam anak menuju kolam dewasa.
“Yang kami tidak tahu bagaimana ceritanya anak berpindah dari kolam anak ke kolam dewasa,” ujar UM, orang tua ABS.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena ABS kemudian ditemukan berada di kolam dewasa.
Menurut keluarga, kronologi yang disampaikan pihak sekolah belum menjelaskan secara rinci kapan ABS meninggalkan kolam anak, siapa yang mengetahui perpindahan tersebut, serta siapa yang terakhir kali melihat korban sebelum ditemukan di kolam dewasa.
Ada pendamping kelas, shadow teacher, dan pelatih renang
Keluarga menyebut saat kegiatan berlangsung terdapat pendamping kelas, shadow teacher yang mendampingi siswa berkebutuhan khusus, serta coach atau pelatih renang.
Keberadaan sejumlah pendamping tersebut menjadi salah satu hal yang ingin diperjelas keluarga.
Bukan untuk langsung menyimpulkan adanya kelalaian, tetapi keluarga ingin mengetahui bagaimana sistem pengawasan terhadap ABS berlangsung pada saat kegiatan renang.
Siapa yang bertanggung jawab mengawasi ABS?
Di mana posisi masing-masing pendamping?
Kapan ABS terakhir terlihat?
Apakah ABS masih berada di area kolam anak ketika kegiatan berakhir?
Dan, yang paling penting, bagaimana ABS kemudian dapat berada di kolam dewasa?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut keluarga, belum terjawab secara utuh.
Telepon pukul 09.27 WITA
Pada 1 September 2026, UM mengaku mendapat telepon dari wali kelas yang memintanya datang ke Puskesmas Mandai.
“Saya ditelepon sama wali kelas untuk datang ke Puskesmas Mandai. Lalu saya pergi ke Puskesmas dan saya lihat anak saya sudah enggak ada,” tutur UM.
Keluarga memperkirakan kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 09.00 WITA, salah satunya berdasarkan waktu mereka menerima telepon dari pihak sekolah, yakni sekitar pukul 09.27 WITA.
Namun, waktu tersebut belum menjawab kapan tepatnya ABS masuk ke kolam dewasa dan berapa lama korban berada di dalam air sebelum ditemukan.
Siapa yang terakhir melihat ABS?
Inilah salah satu pertanyaan paling krusial bagi keluarga
Menurut UM, dalam kronologi yang diterima keluarga belum disebutkan secara jelas siapa orang terakhir yang melihat ABS sebelum korban ditemukan di kolam dewasa.
“Yang melihat kejadian itu belum jelas. Karena di dalam kronologi yang mereka berikan kepada kami, yang terakhir melihat anak kami itu enggak ada,” ungkap UM.
Bagi keluarga, informasi mengenai saksi terakhir sangat penting untuk menyusun rangkaian kejadian secara utuh.
Jika ABS sebelumnya berada di kolam anak, maka perlu diketahui kapan dan dalam kondisi bagaimana korban berpindah ke area kolam dewasa.
Tanpa keterangan mengenai titik waktu tersebut, terdapat bagian penting dalam kronologi yang menurut keluarga masih menjadi tanda tanya.
Pertanyaan besar keluarga
Keluarga menegaskan bahwa yang mereka harapkan adalah keterbukaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada ABS di 1 September 2026 lalu.
UM mengatakan keluarga tidak ingin ada lagi pertanyaan yang menggantung.
“Intinya kalau dari kita keluarga sih keterbukaan ya. Tidak ada lagi pertanyaan yang menggantung,” ujar UM.
Menurut keluarga, setidaknya terdapat sejumlah pertanyaan mendasar yang perlu dijelaskan:
1. Kapan tepatnya ABS meninggalkan kolam anak?
2. Bagaimana ABS bisa sampai ke kolam dewasa?
3. Siapa yang pertama mengetahui keberadaan ABS di kolam dewasa?
4. Siapa orang terakhir yang melihat ABS sebelum ditemukan?
5. Di mana posisi pendamping kelas atau shadow teacher saat ABS berpindah kolam?
6. Di mana posisi coach atau pelatih renang pada saat itu?
7. Kapan ABS diketahui tidak berada di area yang seharusnya?
8. Berapa lama jarak waktu antara ABS terakhir terlihat hingga ditemukan di kolam dewasa?
9. Siapa yang pertama menemukan ABS?
10. Apa tindakan yang dilakukan setelah ABS ditemukan hingga akhirnya dibawa ke Puskesmas Mandai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting yang perlu dijelaskan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai kejadian.
Pihak sekolah datang ke rumah keluarga
Setelah kejadian pada 1 September 2026, pihak sekolah disebut tetap berkomunikasi dengan keluarga. Pihak sekolah juga datang ke rumah korban dan turut mengantar jenazah. Namun jenazah ABS kemudian dibawa oleh keluarga ke Sumatera Utara.
Bagi keluarga kata UM, kedatangan pihak sekolah dan penyampaian kronologi belum sepenuhnya menghilangkan luka mendalam atas kehilangan anak semata wayang serta pertanyaan yang muncul sejak hari kejadian.
Pasalnya, masih terdapat satu mata rantai yang dianggap belum terjelaskan dalam kronologi: apa yang terjadi sejak ABS berada di kolam anak hingga akhirnya ditemukan di kolam dewasa?
Bukan sekadar mencari siapa yang salah
Keluarga menegaskan bahwa yang mereka harapkan bukan semata-mata mencari pihak yang harus disalahkan.
Mereka ingin seluruh rangkaian kejadian dijelaskan secara terbuka dan berdasarkan fakta.
“Kronologi yang dikirimkan ke keluarga juga sampai sekarang kita belum menemukan itu informasi tentang kejadian tersebut. Itu pertanyaan besar keluarga yang belum dijawab,” kata UM.
Peristiwa 1 September 2026 tersebut akhirnya menyisakan satu pertanyaan utama:
“Jika ABS terakhir diketahui berada di kolam anak, bagaimana ia bisa ditemukan di kolam dewasa tanpa adanya penjelasan yang jelas mengenai perpindahan tersebut?”, tanyanya.
Jawaban atas pertanyaan itu menjadi bagian penting untuk mengungkap secara utuh apa yang sebenarnya terjadi pada pagi hari tersebut.
Upaya Konfirmasi
Wartakata.id telah berupaya menghubungi pihak Sekolah Alam Darul Istiqamah (Sadiq) Maros untuk meminta klarifikasi dan keterangan terkait peristiwa tenggelamnya ABS (6), termasuk mengenai kronologi kejadian serta langkah yang dilakukan pihak sekolah saat insiden tersebut terjadi. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan tanggapan atau respons atas upaya konfirmasi yang dilakukan.
Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak sekolah maupun yayasan untuk memberikan klarifikasi dan keterangan resmi sebagai bentuk keberimbangan dalam pemberitaan.
(*)













