WARTAKATA.ID, MAKASSAR – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mendorong civitas akademika STIEM Bongaya untuk ikut mengambil peran dalam pengelolaan lingkungan, khususnya melalui penerapan ekonomi sirkular dan pengembangan urban farming.
Hal tersebut disampaikan Helmy saat menghadiri dan memberikan sambutan pada Seminar Nasional Lingkungan Hidup 2026 yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STIEM Bongaya di Pelataran Parkir Kampus STIEM Bongaya, Makassar, Senin (28/9/2026). Seminar tersebut mengangkat tema penguatan ekonomi sirkular melalui pengolahan dan pemanfaatan urban farming.
Menurut Helmy, persoalan sampah di perkotaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan mahasiswa. Kampus dinilai dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan baru dalam memilah dan mengolah sampah sekaligus mengembangkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Penerapan ekonomi sirkular dapat dimulai dari lingkungan kampus dengan memanfaatkan lahan kosong atau lahan terbatas untuk kegiatan urban farming. Sementara sampah organik, seperti sisa makanan dari kantin dan daun kering, dapat diolah menjadi kompos atau pupuk yang mendukung kegiatan pertanian perkotaan.
Konsep tersebut tidak hanya membantu mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir, tetapi juga mengubah material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat. Pendekatan ini sejalan dengan pembahasan seminar yang mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah agar dapat dimanfaatkan kembali.
Helmy juga mendorong organisasi kemahasiswaan, khususnya Mapala STIEM Bongaya bersama mahasiswa penerima KIP Kuliah, untuk menjadi penggerak edukasi lingkungan. Kebiasaan memilah sampah diharapkan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti kos dan rumah tangga, kemudian ditularkan kepada masyarakat sekitar.
Seminar Nasional Lingkungan Hidup 2026 menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-37 Mapala STIEM Bongaya dan diikuti unsur pemerintah, sivitas akademika, RT/RW, mahasiswa, serta masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, DLH Makassar berharap gerakan pengelolaan sampah dan urban farming dapat berkembang menjadi praktik berkelanjutan di lingkungan kampus maupun masyarakat. (*)







