Oleh: Dr. Agung Rinaldy Malik, M.Pd. – Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM
Indonesia hari ini sedang berdiri di persimpangan besar. Di satu sisi, kita melihat kemajuan pembangunan, pertumbuhan infrastruktur, transformasi digital, dan optimisme menuju Indonesia Emas 2045. Angka kemiskinan juga menunjukkan penurunan, yakni menjadi 8,25 persen pada September 2025, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 berada pada angka 4,68 persen. Namun di sisi lain, angka-angka itu tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri, sebab di balik statistik masih ada wajah rakyat kecil, anak-anak putus sekolah, ketimpangan akses pendidikan, kerusakan lingkungan, dan kegelisahan generasi muda menghadapi masa depan yang tidak selalu pasti.
Kondisi Indonesia saat ini tidak cukup dibaca hanya dari gedung yang tinggi, jalan yang panjang, atau angka pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati harus diukur dari sejauh mana negara mampu menghadirkan kehidupan yang layak, adil, dan bermartabat bagi seluruh warga. Jika masih ada anak yang kehilangan kesempatan belajar karena kemiskinan, jika masih ada sekolah yang tertinggal karena akses digital dan fasilitas dasar belum memadai, maka pembangunan kita belum sepenuhnya selesai. Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih menentukan arah masa depan bangsa.
Di sinilah pendidikan berkelanjutan menjadi sangat penting. Pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai proses mengejar ijazah, nilai ujian, atau gelar akademik. Pendidikan harus menjadi jalan panjang untuk membentuk manusia yang sadar, kritis, berkarakter, peduli lingkungan, dan mampu hidup dalam perubahan zaman. Semangat SDGs 4 menegaskan bahwa pendidikan berkualitas harus bersifat inklusif, merata, dan membuka kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang. Artinya, pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan ekologis masyarakat.
Pendidikan berkelanjutan bukan hanya soal memasukkan isu lingkungan ke dalam kurikulum. Lebih dari itu, pendidikan berkelanjutan adalah cara mendidik manusia agar memahami hubungan antara dirinya, masyarakat, alam, teknologi, dan masa depan. Anak-anak tidak cukup diajari membaca dan berhitung, tetapi juga harus diajari memahami krisis iklim, menjaga lingkungan, menghargai keberagaman, menggunakan teknologi secara etis, serta membangun solidaritas sosial. Tanpa kesadaran seperti itu, pendidikan hanya akan melahirkan manusia pintar, tetapi belum tentu bijaksana.
Masalah terbesar pendidikan kita hari ini adalah ketimpangan. Ada sekolah yang sudah berbicara tentang kecerdasan buatan, tetapi di tempat lain masih ada sekolah yang kesulitan akses internet, buku, laboratorium, bahkan ruang belajar yang layak. Ada anak yang sejak kecil dibimbing dengan fasilitas terbaik, sementara anak lain harus berjuang keras hanya untuk tetap bersekolah. Ketimpangan seperti ini berbahaya, karena masa depan bangsa tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang lahir di pusat kota, keluarga mampu, dan lingkungan yang serba mendukung.
Karena itu, pendidikan berkelanjutan harus berpihak kepada yang tertinggal. Negara harus memastikan bahwa anak-anak di desa, pulau kecil, daerah terpencil, kawasan miskin kota, dan wilayah rentan mendapat kualitas pendidikan yang sama bermartabatnya. Guru harus diperkuat, sekolah harus diberdayakan, kurikulum harus dikontekstualkan, dan teknologi harus digunakan untuk memperluas keadilan, bukan memperlebar jurang ketimpangan. Pendidikan yang berkelanjutan adalah pendidikan yang tidak meninggalkan siapa pun.
Indonesia juga membutuhkan pendidikan yang kembali pada akar kebudayaan. Modernisasi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari bahasa daerah, sastra daerah, nilai lokal, dan kearifan leluhur. Justru pendidikan berkelanjutan harus mampu mempertemukan pengetahuan global dengan kebijaksanaan lokal. Anak-anak Indonesia harus mampu menguasai teknologi, tetapi tetap mengenal tanah tempat ia berpijak. Mereka harus cakap berpikir modern, tetapi tetap memiliki hati yang berakar pada budaya, etika, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, pertanyaan besar kita bukan hanya “seberapa maju Indonesia hari ini?”, tetapi “manusia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk masa depan Indonesia?” Jika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, maka kita mungkin memperoleh manusia produktif, tetapi belum tentu manusia yang peduli. Jika pendidikan hanya mengejar kompetisi, maka kita mungkin melahirkan generasi unggul, tetapi belum tentu generasi yang berempati. Pendidikan berkelanjutan harus melampaui itu semua: ia harus membentuk manusia yang mampu hidup, bekerja, berpikir, dan mengambil keputusan dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.
Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena kekayaan alamnya, jumlah penduduknya, atau ambisi ekonominya. Indonesia akan menjadi bangsa besar apabila pendidikannya mampu memanusiakan manusia, menguatkan karakter, menjaga lingkungan, memperkecil ketimpangan, dan menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Maka, pendidikan berkelanjutan bukan sekadar agenda pendidikan, melainkan agenda penyelamatan bangsa. Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tetapi oleh siapa yang kita didik untuk menjaganya esok hari.













