WARTAKATA.ID, MAKASSAR — Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar (FMIPA UNM), 14–15 Agustus 2026, menjadi momentum berbeda bagi Prof. Suwardi Annas, M.Si., Ph.D.
Setelah delapan kali menyambut mahasiswa baru dalam kapasitas sebagai dekan, tahun ini menjadi PKKMB terakhir Suwardi memimpin FMIPA UNM.
“Ini adalah tahun kedelapan saya sebagai dekan menerima mahasiswa baru, sekaligus tahun terakhir saya sebagai Dekan FMIPA,” kata Suwardi dalam sambutannya di hadapan mahasiswa baru.
Pernyataan itu sekaligus membawa Suwardi mengingat kembali kondisi FMIPA ketika periode kepemimpinannya dimulai. Pada 2019, kata dia, fakultas tersebut menerima sekitar 860 mahasiswa baru. Tahun ini, sebanyak 1.464 mahasiswa baru jenjang sarjana bergabung dengan FMIPA, belum termasuk 274 mahasiswa baru program magister dan doktor.
Namun, bagi Suwardi, angka bukan satu-satunya ukuran.
Di hadapan mahasiswa baru, doktor Statistika Lingkungan lulusan Osaka Prefecture University, Jepang, itu justru memulai sambutannya dengan berbicara tentang visi.
Ia mengutip sebuah ungkapan yang dikenalnya selama menempuh pendidikan di Jepang.
“Orang Jepang mengatakan, bekerja tanpa visi dan misi bagaikan berjalan pada malam yang gelap gulita. Tetapi memiliki visi dan misi tanpa bekerja bagaikan bermimpi pada siang bolong,” ujarnya.
Kalimat itu seperti menjadi pintu masuk Suwardi untuk menjelaskan perubahan yang terjadi di FMIPA dalam beberapa tahun terakhir.
Lima tahun lalu, FMIPA memiliki sekitar 20 program studi. Kini jumlahnya mencapai 32 program studi. Sebanyak 12 program studi baru dibuka, mulai dari Bioteknologi, Sains Data, Sains Aktuaria, Sains Lingkungan, hingga Sains Informasi Geografi pada jenjang sarjana. Ekspansi juga dilakukan pada pendidikan magister dan doktor.
Perubahan tidak berhenti pada jumlah program studi.
Suwardi mengatakan 12 program studi FMIPA telah memperoleh predikat unggul secara nasional, sedangkan lima program studi telah mendapatkan akreditasi internasional ASIIN dari Jerman. Kerja sama internasional dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat juga terus diperluas.
Karena itu, Suwardi percaya diri menyebut FMIPA telah bergerak dari sekadar fakultas yang kuat secara nasional menuju institusi dengan daya saing global.
“Kalau indikatornya program studi, kita sudah unggul secara nasional. Kalau ukuran daya saing global adalah akreditasi internasional dan kerja sama tridarma, itu juga sedang dan terus kita capai,” katanya.
Perubahan fisik kampus ikut menyertai transformasi tersebut.
Dalam lima tahun terakhir, FMIPA mengembangkan sedikitnya 116 ruang untuk mendukung kegiatan akademik dan kemahasiswaan. Sarana bagi mahasiswa sarjana, menurut Suwardi, meningkat sekitar 60 persen.
Fakultas itu juga memiliki 14 laboratorium teknologi informasi, gazebo, taman baca, serta ruang bagi lembaga kemahasiswaan.
Ia bahkan menyebut FMIPA kini mempunyai salah satu fasilitas fakultas paling lengkap di UNM.
Tetapi Suwardi tidak ingin mahasiswa baru hanya terkesan dengan gedung. Ia berkali-kali menekankan tiga kata yang menjadi slogan FMIPA: inovatif, kolaboratif, dan kompetitif.
“FMIPA bekerja berbasis mutu. Kita memiliki high quality level. Standar kita tinggi,” ujarnya magister dari IPB University itu.
Indikator budaya mutu itu, menurut Suwardi, dapat dilihat dari capaian FMIPA pada UNM Award. Dari 17 kategori yang dipertandingkan, FMIPA meraih penghargaan pada 15 kategori. Pada kategori dosen dan tenaga kependidikan, fakultas tersebut juga mendominasi sejumlah penghargaan utama.
FMIPA saat ini memiliki 53 guru besar, jumlah yang disebut sebagai terbanyak di lingkungan UNM.
Ada pula capaian yang dianggap Suwardi lebih fundamental daripada sekadar penghargaan akademik: pembangunan tata kelola.
FMIPA UNM menjadi salah satu unit yang masuk dalam proses pembangunan Zona Integritas. Menurut Suwardi, dari ratusan fakultas perguruan tinggi yang mengikuti penilaian, FMIPA memperoleh skor 91,4 dan berada pada jajaran empat besar dalam penilaian tingkat nasional yang dilakukan tim penilai Kemendiktisaintek sebelum proses berlanjut ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Bagi Suwardi, capaian itu merupakan penegasan bahwa kualitas perguruan tinggi tidak boleh hanya diukur dari akademik, tetapi juga dari tata kelola yang bersih.
“Ini yang ingin kita bangun, kampus yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme,” katanya.
Kepada mahasiswa baru, Suwardi kemudian mengembalikan pembicaraan pada masa depan.
Ia meminta mereka tidak sekadar menghafalkan visi dan misi fakultas. Visi, kata dia, baru mempunyai arti jika hadir dalam perilaku belajar, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, budaya riset, dan keberanian berkompetisi.
Mahasiswa bahkan didorong menyelesaikan pendidikan lebih cepat sepanjang mampu memenuhi standar akademik. Suwardi memberi contoh mahasiswa Program Studi Statistika yang dapat merampungkan studi sarjana dalam waktu tiga tahun.
“Karena hanya orang-orang unggul yang bisa menyelesaikannya,” ujarnya.
Bagi Suwardi, tahun terakhir menerima mahasiswa baru sebagai dekan dengan demikian menjadi semacam titik untuk melihat ke belakang sekaligus ke depan.
Ia datang dari tradisi pendidikan matematika, menyelesaikan S1 Pendidikan Matematika di IKIP Ujung Pandang, melanjutkan S2 Statistika di Institut Pertanian Bogor, lalu meraih Ph.D. dalam Statistika Lingkungan di Jepang.
Bagi Suwardi Annas, ia sekaligus terdengar seperti laporan pertanggungjawaban delapan tahun dan pesan terakhir kepada generasi yang akan melanjutkan perjalanan FMIPA UNM setelah dirinya tak lagi duduk di kursi dekan nantinya.












