Oleh: Muh. Herisman (Dosen PPKn UNM)
WARTAKATA. ID, MAKASSAR— Beberapa tahun terakhir, cara orang berinteraksi terasa berubah cukup jauh. Bukan hanya di media sosial, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Orang menjadi lebih mudahtersinggung, cepat marah, dan sulit menerima perbedaanpendapat. Percakapan yang seharusnya bisa diselesaikan denganbaik sering berubah menjadi saling menyerang. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin ramai berbicara, tetapiperlahan kehilangan rasa hormat satu sama lain.
Padahal dulu, banyak kampung di Sulawesi, anak-anaktumbuh dengan aturan sederhana tentang adab. Kalau lewat di depan orang tua harus bilang “tabe”. Nada bicara dijaga. Cara duduk di depan orang yang lebih tua pun diperhatikan. Hal-halkecil seperti itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian daripendidikan karakter dalam keluarga. Orang tua percaya bahwaperilaku mencerminkan harga diri seseorang.
Dalam budaya Bugis, Makassar, Mandar, hingga Toraja, menjaga sikap dianggap sama pentingnya dengan menjaga namabaik keluarga. Nilai seperti sipakatau, sipakalebbi, dan siri’menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, orang tua zaman dulu sering merasa lebih malu jika anaknyatidak tahu sopan santun dibanding tidak memiliki banyak harta.
Sekarang suasananya mulai berbeda. Media sosial membuatsemua orang bisa berbicara kapan saja tanpa batas. Sayangnya, kebebasan itu sering dipakai tanpa pertimbangan. Di internet, orang bisa saling menghina hanya karena persoalan kecil. Komentar kasar muncul hampir setiap hari dan tidak sedikityang menjadikan ejekan sebagai hiburan. Data APJII tahun 2026 menunjukkan pengguna internet Indonesia sudah mencapai lebihdari 235 juta jiwa. Artinya, sebagian besar masyarakat Indonesia hidup sangat dekat dengan ruang digital. Namun perkembanganteknologi ternyata tidak selalu diikuti kedewasaan dalambersikap. Banyak orang bereaksi terlalu cepat tanpa memikirkandampak ucapan mereka terhadap orang lain.
Fenomena itu terlihat jelas di kalangan remaja. Belakanganini cukup banyak video yang memperlihatkan siswamempermalukan guru demi konten media sosial. Ada yang merekam gurunya lalu menjadikannya bahan candaan. Ada pula yang membentak ketika ditegur soal disiplin. Dulu, tindakanseperti itu dianggap memalukan. Sekarang justru sering viral dan ditonton ramai-ramai. Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, konflik antarpelajar bahkan pernah dipicu saling ejek di media sosial. Masalah kecil di internet bisa berujung tawuran di jalan. Dari situ terlihat bahwa banyak anak muda tumbuh tanpakemampuan mengendalikan emosi dengan baik. Mereka terbiasabereaksi cepat, tetapi kurang dibiasakan memahami perasaanorang lain.
Hal lain yang ikut berubah adalah suasana di rumah. Banyak keluarga sekarang tinggal serumah, tetapi jarang benar-benarberbicara. Anak sibuk dengan telepon genggamnya, sementaraorang tua juga tenggelam dalam pekerjaan dan layar masing-masing. Meja makan yang dulu menjadi tempat berbagi ceritaperlahan berubah menjadi ruang sunyi. Akibatnya, anak-anaklebih banyak belajar dari internet dibanding dari lingkungankeluarga. Mereka cepat mengikuti tren, tetapi sering kesulitanmemahami cara menghargai orang lain. Sekolah pun kadangterlalu fokus mengejar nilai akademik. Anak dituntut pintardalam banyak pelajaran, tetapi pendidikan tentang empati dan etika sosial sering tidak mendapat perhatian yang cukup.
Kalau keadaan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanyasopan santun, tetapi juga rasa saling percaya di tengahmasyarakat. Orang mudah curiga, mudah marah, dan gampangmenghakimi. Kita bisa melihatnya di jalan raya, di media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, pembicaraantentang adab sebenarnya bukan hal kuno. Justru di tengah dunia yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan menjaga ucapandan menghargai orang lain menjadi sesuatu yang semakinpenting. Teknologi memang membantu banyak hal, tetapihubungan antarmanusia tetap ditentukan oleh cara kitamemperlakukan sesama. Sopan santun tidak membuat seseorangterlihat lemah. Dalam hal tersebut, justru itu tanda sebuahkedewasaan. Sebab pada akhirnya, orang mungkin diingatkarena prestasinya, tetapi dihargai karena sikapnyamemperlakukan orang lain.







